Sabtu, 15 April 2017

BAB I
PENDAHULUAN

A.          Latar Belakang

Pelaksanaan pendidikan dan pengajaran bagi sebuah pendidikan tinggi seni, khususnya Program Studi S-1 Televisi dan Film tidak hanya cukup dilaksanakan di kampus saja. Sangat diperlukan proses pengayaan diri melalui pengalaman belajar bekerja secara nyata di dunia industri sesuai dengan bidang profesi yang ditekuni mahasiswa sebagai penyempurna dalam pencapaian kompetensinya.
Jika pendidikan di dalam kampus dititikberatkan pada pengembangan wawasan keilmuan dan akademik, pembekalan dasar keahlian, dan pengembangan kreativitas, maka pengalaman belajar bekerja secara terstruktur dapat dimanfaatkan mahasiswa, untuk menerapkan ilmu yang diperolehnya sambil mengenali jenis kompetensi dan standar profesionalitas yang dituntut oleh dunia kerja. Melalui pelaksanaan kerja profesi ini mahasiswa dapat merasakan bagaimana bekerja di sebuah perusahaan yang diinginkan, dan mahasiswa juga dapat mengembangkan pengetahuan yang didapatkannya dari pembelajaran di kampus.
Menjadi seorang Art. Director di salah satu televisi bukanlah sebuah hal yang mudah. Hal ini dikarenakan Art Director. harus bekerja secara siap waktu sebelum dilakukannya produksi agar sebuah program acara dapat ditayangkan tepat waktu. Maka dari hal tersebut, mahasiswa dituntut untuk disiplin dalam melaksanakan pekerjaannya. Menghargai waktu dan dapat bekerja sama dengan tim kerja yang sudah ditentukan adalah satu hal yang penting dalam menjadi seorang Art. Director di stasiun televise, baik local maupun nasional.
Oleh sebab itu, mahasiswa Program Studi S-1 Televisi dan Film ISI Surakarta berkewajiban mengamati sekaligus mengalami secara langsung penerapan kompetensi yang telah dikembangkan selama kuliah lewat praktik belajar-bekerja atau magang di dunia kerja yang sesungguhnya. Belajar-bekerja atau magang ini dapat diwujudkan melalui pelaksanaan kuliah Kerja Profesi (KP).


  1. Tujuan Penyelenggaraan Kerja Profesi

Pelaksanaan kuliah Kerja Profesi Program Studi S-1 Televisi dan Film ISI Surakarta ini bertujuan untuk:
1.      Merealisasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi sesuai visi, misi, dan tujuan ISI Surakarta.
2.      Mahasiswa belajar menerapkan ilmu pengetahuan di lingkungan masyarakat/dunia kerja/industri.
3.      Mahasiswa belajar/mengenal/mengalami suasana kerja secara langsung bagaimana menjadi seorang Art. Director  di stasiun televisi.
4.      Mahasiswa mengetahui sistem kerja dengan pembagian divisi yang sudah ditentukan oleh perusahaan.
5.      Mahasiswa belajar mengembangkan kemampuan bekerjasama interpersonal skill (human relation).
6.      Mengadaptasikan mahasiswa dengan perkembangan pertelevisian saat ini.


  1. Manfaat Penyelenggaraan Kerja Profesi

Pelaksanaan kuliah Kerja Profesi untuk mahasiswa Program Studi S-1 Televisi dan Film ISI Surakarta ini memberi manfaat baik bagi mahasiswa, lembaga pendidikan (Prodi Televisi dan Film ISI Surakarta), maupun dunia industri.
1.   bagi mahasiswa
a.       Sebagai peralihan dari suasana akademik/kampus ke dunia kerja yang sesungguhnya, sehingga pengalaman tersebut dapat dipakai untuk mempersiapkan diri dari segi mental dan kompetensi menghadapi kebutuhan industri pertelevisian terutama di bidang Art. Director.
b.      Sebagai usaha memantapkan kesiapan profesi di bidang Art. Director.
c.       Dapat menjalin relasi secara profesional dengan pihak industri/perusahaan.
d.      Mendapatkan sebuah wacana yang baru, dan dapat sebagai pertimbangan di masa depan.
2.   bagi lembaga pendidikan
a.       Merupakan salah satu cara evaluasi pencapaian kompetensi lulusan terutama di bidang Art. Director ataupun Produksi program acara.
b.      Dapat menjalin kerjasama mutualistis dengan pihak industri atau perusahaan.
c.       Dapat mewakili eksistensi program studi Televisi & Film ISI Surakarta.
d.      Dapat memperoleh informasi dari industri/perusahaan tentang kompetensi dan kualifikasi sumber daya manusia yang dibutuhkan.

  1. Waktu Penyelenggaraan Kerja Profesi

Kerja profesi dilaksanakan selama satu bulan sejak tanggal 18 Mei 2010 sampai 18 Juni 2010. Jam kerja dimulai pada hari Senin sampai Sabtu mulai pukul 09.00 – 17.00. Selama 1 bulan ketentuan jadwal kerja profesi dilakukan menyesuaikan dengan jadwal perusahaan, masuk dari hari Senin hingga hari Sabtu, dan libur pada hari Minggu. Bila ada libur nasional tetap masuk kerja dikarenakan sudah terkena jadwal harian. Apabila pada hari Minggu ada acara live baik diluar ataupun di dalam stasiun televisi, maka tetap masuk kerja pada produksi tersebut.   

  1. Lokasi Penyelenggaraan Kerja Profesi

Institusi yang dituju adalah :
1. Nama Institusi                          : P.T Terang Abadi Televisi ( TATV ).
2. Unit/Bagian                              : Produksi dan Art Departement.
3. Bidang                                     : Pra dan Produksi acara.
4. Alamat                                     : Gedung Terang Abadi Televisi ( TATV ). 
                                                                
Jl. Brigjend. Katamso No. 173 Surakarta.


BAB II
MATERI DAN METODE KERJA PROFESI

A.  Materi Kerja Profesi
1.   Materi Umum.
    Media televisi menjadi media yang menyajikan sebuah pertunjukan audio visual  yang dikemas secara baik didalamnya. Media ini sangat diminati oleh masyarakat dalam menyajikan informasi. Masyarakat bisa dengan mudah mengakses informasi lewat program acara yang ditayangkan oleh sebuah stasiun televisi. Proses pengerjaan tayangan sebuah program acara dibagi menjadi tiga bagian yaitu, Praproduksi yang diketahui menjadi proses yang dilakukan sebelum melakukan produksi (pembuatan rundown acara, casting, pembuatan naskah, prepare dan set studio), Produksi yang menjadi proses pembuatan atau pengambilan gambar yang dibutuhkan sesuai dengan naskah yang telah dibuat, Pascaproduksi sebagai proses terakhir dalam pengerjaan program acara televisi sebelum ditayangkan. Dalam hal ini Art. Director Departement berperan penting ( vital ) dalam pelaksanaan Praproduksi, Art. Director dibagi atas 2 divisi :
1.      Divisi Tata rias. & wardrobe. ( meliputi tata rias talent / pemain dan persiapan kostum yang akan digunakan pemain, MC, talent program acara, pembawa berita, make – up aktris, dll ).
2.       Divisi Tata artisitik ( meliputi, desain panggung yan akan digunakan, tata cahaya panggung dan jenis – jenis setting panggung, baik buil – up ataupun set. Permanent.  
Tata artistik dan setting lokasi menjadi sebuah proses awal dari produksi film. Tidak berbeda dengan stasiun televisi, bahwa proses penataan setting panggung menjadi bagian paling awal dari sebuah produksi program acara in – door.
    Saat dilaksanakannya kerja profesi, didapatkan posisi sebagai Art. Director. Peran Art. Director sendiri di perlukan dalam sebuah produksi program acara televisi di studio ( in – door ). Saat dilaksanakannya kerja profesi, tugas yang langsung didapat adalah menjadi Art. Departement program acara Musik dan Talk show yang ditayangkan hampir setiap hari. Instruktur sangat banyak memberikan materi tambahan dalam hal penataan artistik dan setting studio, baik dalam pemahaman penggunaan tata warna dan cahaya, pemilihan gambar yang tepat, mambuat efek dan backdroup yang cocok, agar di dalam produksi mendapatkan minat dari audience yang menonton acara tersebut. Karena warna pada setting yang diterapkan berbeda setelah gambar panggung tersebut diambil kamera dan masuk secara live, perbedaan warna pada kamera yang harus diperhatikan oleh team work Art. Director.               

2.       Materi Khusus.
Baik-tidaknya sebuah program acara in – door ataupun studio, paling awal ditentukan oleh Art. Departement. Art. Director merupakan penggarap pertama studio, sebelum team produksi masuk ke studio untuk produksi secara live. Sebuah acara sering terasa membosankan karena Art. Director tidak berperanan, hanya sebagai pelaksana saja atau hanya mengalihkan kembali yang tercantum dalam rundown program acara. Apalagi kalau ia sendiri tidak memiliki cita rasa seni yang merangsang hadirnya kreativitas. Sebaliknya, jika Art. Director itu mempunyai penafsiran yang kreatif terhadap suatu setting studio yang akan diproduksi, maka ia akan memadukan gambar desain sedemikian rupa sehingga setting panggung bisa lebih baik dari apa yang dibayangkan produser sebelumnya. Dengan kata lain, acara  menjadi lancar dan menarik, atau sebaliknya, jadi membosankan, sering merupakan tanggung jawab seorang Art. Director.
Hal ini membuktikan bahwa Art. Director menjadi bagian penting dari sebuah proses produksi program acara live, dimana Art. Director sendiri harus kreatif dalam mengerjakan tugasnya. Tak berbeda jauh dengan dunia film, saat dilaksanakannya kerja profesi di stasiun televisi TATV berfikir cepat dan kreatif saat melaksanakan tugas agar tayangan sebuah program acara menjadi menarik untuk ditonton adalah sebuah tuntutan yang harus dapat dilaksanakan. Apalagi jika Art. Director dihadapkan dengan program televisi kejar tayang diluar stasiun televisi tersebut, misalnya Live Clevo di Solo Square, seorang Art. Departement dituntut bekerja lebih cepat dan harus mampu mengatasi kesalahan baik teknis maupun non teknis.
    Di dalam proses praproduksi Art. Director harus melalui beberapa bagian. Pertama seorang Art. Director harus memahami atau mengetahui tentang segala hal yang berhubungan dengan proses tata artistik panggung program acara live, baik teknis maupun non teknis. Kedua seorang Art. Director harus dapat memilih setting desain gambar sesuai dengan rundown acara yang telah dibuat oleh asisten produser acara. Ketiga seorang Art. Director harus bisa memilih dan menyusun desain gambar yang harus diterapkan pada setting panggung program acara tersebut sebagus mungkin sesuai yang diharapkan oleh produser acara. Keempat Art. Director harus dapat membangun kerjasama baik didalam tim produksi maupun didalam divisinya sendiri. Dalam kerja profesi, diajarkan oleh instruktur untuk melakukan empat hal di atas dalam program acara yang dikerjakannya.

B. Metode Kerja Profesi

1. Pengumpulan Data Primer
a.      Observasi
Keinginan untuk merasakan kerja profesi di salah satu stasiun televisi swasta yang ada di Indonesia menjadi faktor pertama yang dirasa. Informasi tentang bagaimana proses masuk sebagai anak magang digali lewat media internet dan bertanya kepada kakak tingkat ataupun dosen yang pernah melakukan kerja profesi distasiun televisi baik nasional maupun regional. Televisi nasional mayoritas berpusat di Ibukota Jakarta. Setelah banyak digali informasi tentang kerja profesi atau magang, akhirnya didapat beberapa kesempatan untuk memasukkan proposal yaitu di beberapa stasiun televisi Lokal maupun nasional di Jawa diantaranya TATV Surakarta. Banyak kendala yang dihadapi ketika harus melakukan kerja profesi di stasiun televisi nasional yang kebanyakan berpusat di Jakarta. Mahalnya biaya hidup di Ibukota menjadi faktor utama untuk mengurungkan niat melakukan kerja profesi disana. TATV Surakarta dipilih juga bukan karena faktor murahnya biaya hidup di kota tersebut, melainkan karena memang kualitas stasiun televisi tersebut mampu bersaing dengan stasiun televisi swasta lainnya.
Proses awal untuk melakukan kerja profesi di TATV adalah mengirimkan proposal kepada pihak manajemen untuk diproses dan diseleksi. Setelah diproses, peserta magang akan dipanggil pada waktu yang ditentukan. Dan peserta kerja profesi akan diwawancara agar dapat diketahui bagian mana peserta dapat melaksanakan kerja profesinya.
Pengamatan dilakukan pada minggu pertama. Hal ini dilakukan agar dapat diketahui lebih banyak tentang cara kerja Art. Departement di stasiun televisi. Seperti yang diketahui, proses atau langkah kerja Art.Director pertama adalah membaca dan memahami rundown dan jadwal program acara yang dibuat oleh asisten produser. Setelah itu sebelum memulai penataan setting panggung, seorang Art.Director memastikan bahan-bahan yang akan disusun terlebih dahulu.
Art director atau penata artistik bisa jadi profesi yang menyenangkan, apalagi buat orang yang memang punya darah dan minat pada seni serta bisa bekerja secara mobile tanpa terikat waktu. Profesi ini bisa jadi salah satu alternatif.
Art director tak hanya pada di satu bidang pekerjaan saja, seorang penata artistik bisa diperlukan di dunia periklanan misalnya, atau dunia televisi dan dunia film. Sementara yang akan dibahas di sini lebih pada penata artistik di dunia pertelevisian.
Saat ini produksi program acara nasional semakin meningkat,  Baik dari segi mutu maupun dari segi jumlah program televisi yang dihasilkan. Minat masyarakat pada program – program acara dalam stasiun televisi juga semakin membaik, terbukti dengan semakin banyaknya program – program yang ditawarkan sehingga penonton punya banyak pilihan yang diinginkan untuk ditonton. Mulai dari talk show, live performe musik, kuis atau tayangan variety show. Dan kenyataannya, banyak juga program – program yang telah diproduksi adalah karya-karya produser muda.
Tanggung jawab seorang penata artistik adalah semua benda yang dilihat penonton saat menyaksikan sebuah tayangan program acara. Pembuatan set, atau setting dari sebuah segment menjadi tanggung jawab penata artistik untuk mengaturnya agar terlihat lebih ‘hidup’ dan seperti dalam ruangan nyata. Misalnya saja setting pada sebuah adegan adalah di ruang tamu, maka art. Director harus dapat ‘menyulap’ sebuah studio, menjadi sebuah set ruang tamu lengkap dengan segala macam perlengkapannya.
Seorang art director dalam struktur perfilman, bekerja di bawah production designer secara langsung, dan di atas set designer dan berada dalam level yang sama dengan set decorator. Kewajiban mereka yang terbesar adalah berbagi aspek administratif dalam art department, seperti pembagian tugas pada tiap personel, penyiapan bujet, scheduling serta mengatur dan menjaga quality control. Biasanya juga mereka bekerjasama dengan bagian yang lain, terutama bagian konstruksi, dalam membuat set dari sebuahprogram acara.

b.      Wawancara
Selain melakukan pengamatan secara langsung di sela-sela kesibukan bekerja, juga digali informasi yang lebih jelas dari Instruktur untuk mengetahui bagaimana cara kerja art director pada pra produksi program acara. Wawancara merupakan kegiatan tanya jawab langsung dengan instruktur kerja profesi. Wawancara ini dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan informasi yang lebih jelas, akurat dan mendalam. Wawancara dengan instruktur, dilakukan di setiap mendapatkan kesempatan selama pelaksanaan kerja profesi. Dalam wawancara, didapatkan banyak jawaban yang menambah wawasan tentang bagaimana proses pra produksi program acara televisi yang berkualitas yang belum pernah penulis dapatkan semasa perkuliahan. Selain dengan Instruktur, juga dilakukan wawancara dengan beberapa Asisten Produser, dan teman-teman art director, hal ini dilakukan agar dapat mengetahui lebih banyak lagi tentang dunia art director. Jawaban yang diberikan membuat ingin lebih tahu banyak lagi tentang dunia art director. Selain itu juga didapatkan banyak pengetahuan tentang langkah-langkah efektif pada saat pra produksi acara televisi.

c.    Partisipasi
Dalam melaksanakan kerja profesi secara bertahap dibimbing oleh instruktur yang disini juga sebagai pembimbing lapangan. Partisipasi dilakukan sejak tanggal 18 Mei sampai 18 Juni 2010 sesuai dengan jadual yang telah diberikan oleh koordinator bagian art director. Jadwal harian juga dibuat terlampir dalam laporan ini. Adapun proses partisipasi yang telah dikerjakan adalah pada program-program seperti berikut ini:
1. Nyampur Sari
2.  Kring Dangdut
3.  Solusi untuk sehat
4.  TMT ( Total Musik TATV )
5.  Jagong Sar Gede
6.  Sudut Pandang
7.  UNS Menyapa
8.  Oemah Joglo ( Obrolan Jogja Solo )
9.  On _ Line Plus ( Talk Show )
10.      Special talk Show.  

2. Pengumpulan Data Sekunder

     a. Analisis Data dan Rekaman
Dokumen dan rekaman perusahaan merupakan data yang dimiliki perusahaan dalam bentuk dokumen dan data soft file baik berupa rundown program ataupun audio visual dalam bentuk kaset betacam, minidivi dan DVD.
Dalam hal ini data yang diperoleh berupa data foto dan rundown acara yang dilaksanakan pada tanggal 18 mei – 18 juni 2010.

b. Studi Pustaka
Dengan berbekal materi yang disampaikan di kampus, pengumpulan data diperkaya dengan beberapa artikel yang ada didalam perpustakaan TATV, web TATV, juga artikel “Art. Director dan Tata Artistik” yang ditulis Diki Umbara dari Bina Sarana Informatika, 31 Maret 2008 Disadur dari Buku “1 Seni & Peranan Tata Artistik, Japan International Cooperation Agency”, dari referensi tersebut dapat dipahami proses kerja art. Director selama kerja profesi berlangsung. Apa yang telah dibaca dapat diaplikasikan langsung di dunia kerja. Selain itu juga dilakukan studi pustaka dari data-data yang diberikan oleh Instruktur di setiap program yang melibatkan Art. Director dalam acara di studio TATV.






BAB III
PELAKSANAAN KERJA PROFESI

A.  Tinjauan Umum Perusahaan

      1. Sejarah Perusahaan
Belajar dari sejarah pertelevisian Indonesia baik televisi swasta maupun pemerintah secara mencermati dari semua perkembangan bisnis pertelevisian yang telah menjadi bahan pertimbangan bagi pemrakarsa berdirinya PT. Terang Abadi Televisi ( TATV ). Meskipun bukan merupakan stasiun televisi swasta yang pertama dan satu – satunya yang dapat diterima di Kota Surakarta, namun nilai – nilai karateristik yang unik dengan kekayaan sumber daya manusia dan budayanya di wilayah Surakarta ini memberikan potensi yang besar untuk dikembangkan dan dikemas dalam suatu produk penyiaran.
Sebagai suatu kota dengan letak strategis di wilayah segitiga pertumbuhan JOGLOSEMAR dan merupakan pusat kebudayaan Jawa Tengah dengan tingkat kemajuan usaha yang cukup pesat dalam dunia usaha dan pariwisata yang menjadikan Kota Surakarta sangat potensial untuk didirikannya stasiun televisi. Oleh karena itu banyak hal yang akan dimanfaatkan dari potensi daerah yang dimiliki ini sehingga diharapkan keberadaan stasiun televisi ini dapat menjadi yang terbaik dalam mengangkat potensi daerah secara profesional, aktif dan kreatif, dan menyajikan tayangan yang menarik pemirsa.
TATV didirikan pada tanggal 1 Juli 2003 dan telah diresmikan oleh Gubernur Jawa Tengah pada tanggal 1 September 2004. Dalam pendiriannya TATV berkeinginan untuk berpartisipasi dalam mewujudkan visi dan misi Kota Surakarta dan tetap menjaga khasanah lingkungan dan memperluas wawasan serta ikut meningkatkan moral, pendidikan, budaya dan kesejahteraan masyarakat dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan media massa modern.
Keberadaan TATV dimaksudkan sebagai media tayangan yang bisa menjadikan tontonan dan tuntunan bagi pemirsanya. TATV berusaha untuk dapat memberiakn pelayanan berupa jenis siaran yang beragam, interaktif, atraktif, dan up-to date, sehingga diharapakn TATV dapat diterima di semua lapisan masyrakat, khususnya kota Solo, Jogjakarta, dan Jateng.
Pada tangal 29 April 2005, TATV mulai melakukan siaran on air, dan disebut ”jelang Tayang Perdana”. Pada awalnya, TATV hanya melakukan siaran selama 3 (tiga) jam, dengan acara yang belum beragam. Setelah TATV melakukan grand lounching pada tanggal 1 September 2004, TATV mulai melakukan siaran selama 8 (delapan) jam perhari.
Misi TATV adalah menjadi televisi yangmemberi pencerahan pada paradigma berpikir dan berperilaku masyarakat pemirsa menuju pambangunan manusia Indonesia seutuhnya. Denagn hadirnya TATV, diharapkan dapat mambangun pola berpikir masyarakat supaya lebih baik lagi, sehingga dapat membangun manusia Indonesia seutuhnya. Visi TATV adalah memberi sumbangsih yang bearti guna kemajuan daerah dan masyarakat pemirsa dalam segala bidang kehidupan, melalui perubahan paradigma berpikir dan berperilaku.
TATV yang bermoto ”TATV MANTEB –MASA KINI DAN BERBUDAYA” ini beralamat di Jl. Brigjen Katamso No. 173, Mojosongo, Surakarta 57127. Dengan jam siaran 18 ( delapan belas ) jam per hari, mulai jam 06.00 – 24.00 WIB. Susunan program TATV berangkat dari informasi dan edukasi yang disajikan dalam bentuk hiburan ( entertaiment ), yang bertujuan untuk menjangkau pemirsa dari segala usia, khususnya keluarga. Komposisi program acara TATV dikategorikan sebagai berikut ;
·         Hiburan : terdiri dari acara musik, film dan drama, program acara anak, dan program acara variasi ( variety show ).
·         Berita, olahraga dan feature, terdiri dari aneka macam berita ( Lokal, nasional dan mancanegara ), talk show, ceremonial, olahraga ( berita olahraga dan profil atlet ), dll.
TATV merupakan perusahaan jasa. Jasa yang dijual oleh TATV adalah berupa jasa pembuatan pemasangan iklan, liputan, pendapatan untuk menyeponsori suatu program acara tertentu, dan promo album / lagu. Hingga saat ini, tayangan – tayangan TATV lebih dari 60% telah diproduksi sendiri oleh TATV. Dengan berguru pada pengalaman, dan stasiun – stasiun TV lokal yang lain, maka TATV terus berkembang, memperbaiki kualitas tayangan, dan terus berupaya supaya dapat dinikmati oleh semua pemirsa Surakarta pada khususnya, dan seluruh pemirsa se – Jteng dan DI Yogyakarta pada umumya.
TATV dibagi menjadi 3 ( tiga ) divisi utama, yaitu divisi pembaritaan, divisi marketing, dan divisi operasional :
a.       Divisi Pemberitaan
Divisi pemberitaan adalah divisi yang paling inti, yang mempunyai kewajiban untuk mencari, mengolah, dan menghasilkan berita yang akurat, up – to date dan relevan. 
b.      Divisi Marketing
Merupakan divisi yang menjadi tulang punggung pemasukan TATV. Karyawan yang ditempatkan pada divisi marketing bertugas untuk mencari pihak lain ( klien ) yang berminat memasang iklan, mengadakan liputan, memberikan sponsor pada program acara tertentu, dan melakukan promosi – promosi lainnya.    
c.       Divisi Operasional
Merupakan divisi yang bertanggung jawab atas seluruh kegiatan administratif dan operasional perusahaan.
Seluruh divisi ini saling mendukung, bersatu dan saling melengkapi, sehingga diharapkan terjalin suatu hubungan kerja yang teratur, nyaman dan harmonis.   
     
2. Visi dan Misi Perusahaan
Sebagai perusahaan yang terjun di bidang industri televisi, PT. Terang Abadi  Televisi mempunyai visi dan misi sebagai pedoman perusahaan dalam perkembangannya. Adapun visi dan misi tersebut antara lain :

  Visi
Menjadi televisi yang memberi pencerahan pada paradigma berpikir dan berperilaku masyarakat pemirsa, menuju pembangunan manusia Indonesia seutuhnya.


    Misi
a.       Memberikan informasi yang lebih kepada masyarakat sekitar melalui peningkatan program-programnya sesuai dengan kondisi masyarakat Surakarta yang umumnya menengah kebawah.
b.      Memberikan Sumbangsih yang berarti guna kemajuan daerah dan masyarakat pemirsa dalam segala bidang kehidupan, melalui perubahan paradigma berpikir dan berperilaku.    
c.       Melalui program siarannya, menjadi partner bagi masyarakat dan pemerintah daerah dalam ikut mensukseskan program-program pembangunan untuk kepentingan mayarakat khususnya Surakarta.
d.      Membuat program-program siaran uanggulan yang menggambarkan kebudayaan masyarakat Surakarta, baik program yang bersifat kesenian seperti program acara "Keroncong" dan "Nyampur Sari", maupun program – program talk show seperti ” ON_Line Plus ” dan ”Jagong Sar Gede” .

3.       Manajemen & Data Perusahaan
Sebagai sebuah perusahaan regional di Jawa Tengah, TATV telah mempunyai kantor dan manajemen yang berkembang pesat. Adapun data pada Terang Abadi Televisi (TATV ) sebagai berikut :
·         Nama Lembaga                       :  PT. TERANG ABADI TELEVISI  
·         Nama Sebutan Di Udara         :  TATV
·         Alamat                                    : Gedung Terang Abadi Televisi ( TATV ). Jl. 
                                                        Brigjend. Katamso No. 173 Surakarta.
·         Telp.                                        : 0271 – 852643, 0271 – 858111
·         Fax.                                         :  +62-271-852643, 852522 ,+62-271-852522.
·         Web Site                                 :  http://www.tatv.co.id

Selain berpusat di Surakarta, TATV  juga mempunyai beberapa biro cabang untuk mendukung penyiaran, diantaranya :
  1. Stasiun TATV Biro Yogyakarta :  Jln. Gajahmada No. 52 Yogyakarta  Telp; 0274 – 510792.TATV
  2. Biro Jakarta : Jln. Tawakal Ujung. Blok A.5 Grogol, Jakarta.  Telp. 08161393275. E-Mail; http://www.tatv.co.id.

      4.   Struktur Organisasi
Adapun struktur organisasi yang dimiliki TATV terbagi menjadi 3 ( tiga ) divisi utama, yaitu ; divisi pemberitaan, divisi marketing, dan divisi operasional.

1.      Pimpinan ( Direksi )
Pimpinan dipegang oleh satu direktur utama yang bertanggung jawab menyangkut kepentingan intern perusahaan. Tujuan pimpinan adalah sebagai berikut :
a.       Sebagai pejabat tertinggi dan memimpin perusahaan untuk mencapai tujuan perusahaan serta mengambil kebijakan – kebijakan yang berhubungan dengan pihak luar perusahaan.
b.      Mengawasi hasil kegiatan perusahaan dan administrasi melalui manajer – manajer perusahaan yang ada.
c.       Menilai dan mengevaluasi hasil kegiatan perusahaan secara berkala.   

2.       Divisi Pemberitaan
Divisi Pemberitaan dipimpin oleh direktur pemberitaan, dan dibantu oleh general manajer ( GM ) pemberitaan. GM Pemberitaan membawahi bagian Pemberitaan dan bagian Special Program.

3.       Divisi Marketing
Merupakan divisi yang bertanggung jawab terhadap hal – hal yang berhubungan dengan promosi dan pemasaran. Divisi marketing dipimpin oleh Direktur Marketing yang dibantu oleh seorang GM Marketing dan asisten GM Marketing. GM Marketing membawahi bagian – bagian yang saling terkait dalam kegiatan marketing perusahaan, yaitu Promo, Art & Property, dan marketing.

4.       Divisi Operasional
Divisi operasional adalah divisi yang paling kompleks dalam struktur organisasi TATV, karena hampir semua kegiatan penting perusahaan masuk ke dalam divisi ini. Divisi operasional dipimpin oleh Direktur Operasional, yang dibantu oleh GM Operasional dan AGM Operasional. GM Operasional membawahi bagian – bagian yaitu : Teknik dan Operasional, Produksi, Program, IT ( Information Technology ), keuangan, HRD, dan GA & ME.     

5.  Unit Usaha
Jasa menjadi faktor usaha yang banyak diminati oleh kalangan pengusaha, karena dunia ini sangat menjanjikan dari segi peluang maupun pendapatan. Salah satu jenis usaha yang bergerak dibidang jasa yang cukup bergengsi untuk dikelola saat ini adalah dunia penyiaran televisi. TATV merupakan perusahaan yang melayani penjualan jasa penayangan iklan, liputan, sponsor/event, promo album dan musik. Dalam pembuatan program acara Televisi ada beberapa dibuat secara live dan taping.

6. Segmentasi Pemirsa
Segmen pemirsa TATV adalah seluruh eks Karisidenan Surakarta. Dipilih karena TATV ingin lebih dekat dengan masyarakat dari kalangan menengah ke bawah. Pemirsa TATV memiliki karakter khas masyarakat Jawa Tengah yaitu bersifat tradisi, memiliki kecintaan tinggi terhadap budayanya, solidaritas yang kuat, lugas dan ekspresif, memiliki keingintahuan yang tinggi, senang terlibat dalam acara televisi, dan agamis. Dengan beberapa dasar tersebut maka TATV membuat program yang betul-betul dekat dengan masyarakat. Salah satunya adalah konsep program yang banyak melibatkan masyarakat sebagai peserta. Format Live dan Interaktif dengan pemirsa tentunya sangat di nanti. Disamping itu juga menggunakan bahasa Jawa, di beberapa program, tidak ketinggalan juga memperbanyak kegiatan Off Air terutama pada program unggulan. Dalam penempatan program (schedulling) TATV memakai pertimbangan yaitu waktu menonton pemirsa (viewing habit), jenis pemirsa (segmen pemirsa), kompetisi program di stasiun televisi lain, dan jenis program/content yang dimiliki.

7.      Logo Perusahaan

 






Dengan desain warna biru dan ketegasan bentuk huruf, TATV melambangkan acara yang meng – global. Dan titik merah pada huruf  “A” merupakan symbol TATV sebagai pusat centre poin. Dengan ini tidak melupakan tanggung jawab sebagai pembawa pesan secara global, TATV juga melihat pentingnya pengaruh baik bagi kehidupan masyarakat Indonesia yang lebih baik sebagai konsumen acara – acara / program – program TV. TATV merasa perlu memberikan warna yang berbeda pada setiap produk acaranya dengan mengedepankan hal-hal yang positif. Sebagai agen informasi, TATV memiliki centre poin  idealisme untuk memberikan berbagai dampak bagi perkembangan dan kemajuan masyarakat Jawa Tengah dan DIY secara khusus dan Indonesia secara umum.

8.  Komposisi Program
Dari data yang didapatkan,TATV mengudara rata-rata 18 jam per hari. Sampai saat ini banyak program baru yang selalu ditayangkan oleh TATV secara rutin selama tujuh hari dalam seminggu mulai pukul 06.00 – 24.00 WIB.
Komposisi program di TATV yaitu terdiri dari muatan program lokal TATV. Program yang di sajikan antara lain News, Talk show, Reality Show, Variety Show, Feature, Sport, Komedi, TV Magazine, ceremonial, Program anak, Quiz, Musik.
Berikut ini merupakan komposisi program yang didapatkan dari company profile TATV :

Unsur yang terkandung  :  10 % universal
                                           90 % lokal
Format Siaran                 :  Live, Taping
Sumber program             :  10% Luar negeri
                                           10% Lokal Nasional
                                           80% Lokal Jawa Tengah.

9. Akses Siaran
Siaran TATV dapat diakses diwilayah Jawa Tengah, eks karesidenan Surakarta ( SUBOSUKOWONOSRATEN ) meliputi, Surakarta, Boyolali, Sukoharjo, Karanganyar, Wonogiri, Sragen dan Klaten, juga sebagian D.I Yogyakarta. Sesuai dengan no. Ijin siar Keputusan Gubernur Jawa Tengah No. 483/129/2003, bahwa stasiun TATV beroperasi dengan channel 50 UHF dan Frekuensi siar 703.25 MHz.   

B. Pelaksanaan Kerja Profesi

1.  Rencana Kegiatan / Jadwal Kerja Harian
Kegiatan dalam kerja profesi yang dilakukan adalah sesuai dengan jadwal kerja yang diberikan. Didalam rencana kegiatan ini dilampirkan jadwal kerja harian sebagai laporan bagaimana keseharian penulis melakukan kegiatan.

2. Waktu Penyelenggaraan Kerja Profesi
Kerja profesi dilaksanakan selama satu bulan sejak tanggal 18 Mei 2010 sampai 18 Juni 2010. Jam kerja mulai hari Senin sampai Sabtu mulai pukul 09.00 – 17.00. Selama satu bulan ketentuan jadual Kerja Profesi menyesuaikan dengan jadual perusahaan, yaitu masuk dari hari Senin hingga hari Sabtu. Kegiatan KP pun diliburkan pada hari Minggu dan pada hari libur nasional, tidak diliburkan jika pada hari itu sudah terkena jadwal produksi.

3. Lokasi Penyelenggaraan Kerja Profesi
Institusi yang dituju adalah :
·         Nama Institusi           : PT. Terang Abadi Televisi ( TATV )  
·         Unit/Divisi                 : Art. Departement dan Produksi
·         Bidang                       : Art. Director
·         Alamat                       : Gedung Terang Abadi Televisi ( TATV ). Jl. 
                                                        Brigjend. Katamso No. 173 Surakarta.


BAB IV
DESKRIPSI PELAKSANAAN KERJA PROFESI

A. Deskripsi Pelaksanaan Kerja Profesi

Tata Artistik Televisi adalah bagian dari kru televisi, di beberapa stasiun televisi, Tata Artistik masuk ke dalam Departemen Artistik atau Art Departement. Di dalam departemen ini terbagi atas: Unit Dekorasi, Unit Properti, Unit Grafika, serta Unit Tata Rias dan Busana. Namun di beberapa stasiun tv di Indonesia tidak selamanya seperti ini, misalnya unit grafika (grafis) di bebrapa stasiun tv justru bertanggung jawab pada post production manager. Sebenarnya apa yang menjadi tanggung jawab seorang penata artistik adalah semua benda yang dilihat penonton saat menyaksikan sebuah film atau tayangan sebuah acara. Pembuatan set, atau setting dari sebuah adegan menjadi tanggung jawab penata artistik
Sedikit berbeda dengan penata artistik televisi, seorang art director dalam struktur perfilman, bekerja di bawah pruction designer secara langsung, dan di atas set designer dan berada dalam level yang sama dengan set decorator. Kewajiban mereka yang terbesar adalah berbagai aspek administratif dalam art. Department, seperti pembagian tugas pada tiap personel, penyiapan bujet dan scheduling dan juga mengatur dan menjaga quality control. Biasanya juga mereka bekerjasama dengan bagian yang lain, terutama bagian konstruksi, tak heran karena tugasnya dalam membuat set dari sebuah adegan atau segment program acara televisi. Tugasnya bisa dibagi dua yaitu, pre produksi dan saat produksi.



* Planning Meeting
Dalam pertemuan perencanaan program televisi atau planning meeting, produser memaparkan konsep acara yang akan dibuat. Dalam ha ini produser didampingi oleh sutradara atau pengarah acara televisi. Atas penjelasan ini, piñata artistk menguraikan rencana tata artistic untuk mendukung acara tersebut, uraian ini dipaparkan dalam bentuk floor plan. Berikutnya, masing-masing departemen mempelajari kembali apa-apa yang harus disiapkan. Kebutuhan set dekorasi, property,serta grafika adalah hal-hal yang sangat serius diperhitungkan secara detail oleh piñata artistic.
* Production Meeting
Dalam pertemuan ini, pengarah acara bertindak memimpin acara meeting produksi. Masing-masing penangung jawab tim memaparkan tugas yang akan dilakukan secara lengkap, ini penting agar departemen lainnya juga memahami konsep acara secara keseluruhan. Dalam meeting produksi, peñata artistik sudah harus mengajukan anggaran yang diperlukan dalam tata artistik.  
* Technical Meeting
Ini merupakan pertemuan terakhir, dimana masalah teknis dibahas. Segala kebutuhan produksi harus selesai dilakukan atau segala sesuatunya ready to use.

a. Pre production.
·         Melakukan bedah skenario.
Ini untuk mengetahui semua set yang diperlukan untuk semua adegan yang termasuk dalam sebuah produksi, Jadi setiap segment / program acara, setiap percakapan yang mengaitkan pada sebuah keadaan misalnya dalm hal “ Solusi Untuk Sehat “, maka art director harus mulai membuat list set apa saja yang diperlukan, antara lain ruang tamu, sofa, lampu background, papan nama / standing holder, alat peraga yang dipromosikan ( biasanya dsendiri oleh nara sumber / bintang tamu ) dan property pelengkap lainnya.
·         Merinci apa saja yang dibutuhkan.
Jika sudah tahu set apa saja yang dibutuhkan dalam membuat sebuah studio menjadi setting panggung, maka ia sudah dapat memulai membuat checklist benda-benda apa saja yang dibutuhkan. Tak hanya properti yang kecil sebagai pemanis dari sebuah ruangan, namun juga set panggung misalnya atau apa saja yang membutuhkan konstruksi, di sini jika merupakan produksi besar, art director bisa bekerja sama dengan bagain konstruksi. Bahkan di beberapa produksi program acara, make up sampai wardrobe bisa menjadi salah satu tanggung jawab seorang art director untuk menyiapkannya. Misalnya saja, setting dari sebuah program acara “ Mencari Anak Berbakat Bersama Clevo”, maka setting panggung yang harus dibuat agar terlihat megah secara Live, dan sudah jelas nama produk sponsor harus disertakan dan di set. Sedemikian rupa agar terlihat di setiap segmen yang muncul di layar kaca.
·         Merinci budget yang dibutuhkan.
Tentu saja setelah merinci apa saja yang dibutuhkan, ia juga perlu merinci budget yang harus dikeluarkan, jika memang budget terbatas, maka denagn sendirinya ia harus pintar-pintar membagi budget sesuai kebutuhan. Semakin ia pandai membuat set yang sesuai dengan aslinya dengan budget yang standar, maka namanya pun akan semakin dikenal. Berbeda dengan stasiun TATV, pimpinan Art. Departemen – lah yang menyesuaikan budget bagi crew art. Director.

b. Penataan Setting Pada Studio dan Produksi
Tanggung jawab seorang penata artistik adalah semua benda yang dilihat penonton saat menyaksikan sebuah film atau tayangan sebuah acara. Pembuatan set, atau setting dari sebuah adegan menjadi tanggung jawab penata artistik untuk mengaturnya agar terlihat lebih ‘hidup’ dan seperti dalam dunia nyata. Misalnya saja setting pada sebuah segment adalah di “Oemah Joglo” maka art. Director harus dapat ‘menyulap’ sebuah studio, entah itu ruang kosong terbuka atau tertutup menjadi sebuah set rumah joglo lengkap dengan segala macam gedhek bambu, meja kayu, tanaman, tikar anyaman, dan property lainnya.
Seorang art director dalam struktur pertelevisian, bekerja di bawah production designer secara langsung, dan di atas set designer dan berada dalam level yang sama dengan set decorator. Kewajiban mereka yang terbesar adalah berbagi aspek administratif dalam art department, seperti pembagian tugas pada tiap personel, penyiapan budget, scheduling serts mengatur dan menjaga quality control. Biasanya juga mereka bekerjasama dengan bagian yang lain, terutama bagian konstruksi, dalam membuat set dari sebuahprogram acara.
Program acara telah dimulai pembuatannya, maka tiap scene pun art. Director perlu ada dan berada di dekat sutradara / produser untuk memastikan gambar yang diambil sesuai dengan yang diharapkan, sesuai dengan skenario dan dalam tampakkan gambarnya pun terlihat nyata. Bisa saja ia ikut terlibat langsung, misalnya saja membetulkan letak set atau properti yang dirasa tak pas di segment yang dimaksud. Kegiatan ini terus diikuti oleh art. Director, mulai dari bongkar pasang set, sampai ke penataan set sepanjang pengambilan gambar masih berlangsung. Namun, jangan kaget kalau jam kerjanya bisa tak tentu.
Art Director dengan latar belakang arsitek atau interior desain bisa menjadi nilai tambah, karena ia perlu mengukur dan menilai sebuah studio menjadi set yang diperlukan. Sedangkan untuk penghasilan, biasanya tergantung dari persetujuan sebelum produksi dimulai. Namun semakin ia pandai mengatur set yang sedehana menjadi luar biasa, maka semakin namanya pun semakin ‘mahal’.  Seorang art.  Director sangat diperhitungkan di dunia produksi program acara stasiun televisi, khususnya di dalam studio.

  1. Kegiatan selama Kerja Profesi

Selama dilaksanakannya kerja profesi sebenarnya belum cukup untuk benar-benar memahami menjadi seorang art. Director, tetapi usaha yang maksimal telah dilakukan agar dapat lebih memahami tentang job diskripsi yang diberikan. Pada minggu-minggu awal telah diberikan sedikit pengarahan dan job diskripsi seorang art. Director. Bagaimana langkah art. Director ketika pertama kali mendapatkan sebuah rundown, penguasaan alat dan pemahaman tentang studio yang digunakan. Hingga bagaimana caranya seorang art. Director menghadapi berbagai macam gangguan baik dalam hal teknis maupun non teknis.
Dari pembicaraan awal sudah dirasakan betapa sulitnya menjadi seorang art. Director ketika menghadapi sebuah program acara Live. Bertemu dan berkenalan dengan instruktur dibagian art. Departemen menjadi agenda pada hari pertama pelaksanaan kerja profesi. Tidak jauh berbeda dengan apa yang dialami saat belajar di kampus tentang penjelasan setting studio dan bagaimana cara para art. Director membuat efek-efek setting panggung. Penggunaan berbagai jenis Set. Panggung yang berbagai macam bentuk, mulai dari jenis minimalis, tradisi kedaerahan hingga setting yang digunakan untuk Program acara live performe music, dll.
Pada minggu pertama ini penjadwalan sudah dipadati dengan kegiatan Live, pada hari kedua masuk yaitu pada hari selasa 19 Mei 2010, seluruh crew produksi termasuk  art. Director ditugaskan di Solo Square untuk acara Live besar bertemakan “ Mencari Anak Berbakat Bersama Clevo”, “Kuis Asyik banget”, dan terakhir “Kring Dangdut”. Acara tersebut berlangsung dengan perencanaan praproduksi dan loading peralatan dari jam 09.00 – 13.00 WIB sedangkan produksi dari jam 14.00 – 23.00 WIB. Penjadwalan kepada anak magang pada bagian art. Director dirasa masih kurang diperhatikan, hal ini terjadi ketika beberapa anak magang pada hari pertama hanya dapat melakukan pengamatan tanpa mendapatkan jadwal shift dan tugas yang jelas. Minggu pertama merupakan proses pengenalan pada crew pra produksi dan produksi.   
Pada minggu kedua, kegiatan magang masih sama seperti pada minggu pertama. masih belum didapatkan pekerjaan pasti. art. Director pada awalnya merupakan tugas yang sangat berat, mengatur setting dan tata letak panggung. Tapi dalam pemaknaanya, divisi tersebut melatih anak magang untuk solid terhadap team worknya. Memberikan penjelasan bahwa batasan – batasan art. Departemen dalam produksi program acara, maupun ruang gerak seorang art. Director yang mempunyai  batasan baik dalam pra produksi maupun produksi program acara.    









 Disini seorang art. Director akan ditantang untuk berfikir bagaimana cara mengolah desain panggung dengan stok bahan serta properti yang terbatas sehingga dapat menghasilkan tayangan yang bagus dan tidak membosankan. Apalagi didalam tayangan ”Nyampur Sari”, dan ”Kring Dangdut” adalah sebuah tayangan yang akan banyak dipenuhi oleh permainan efek lampu dan transisi warna. Jadwal mengerjakan ” Nyampur Sari ” adalah hari Senin sampai Rabu untuk online. Dalam empat hari tersebut, diberikan kesempatan untuk menyelesaikan satu episode acara dengan durasi 60 menit. Saat mengerjakan program ini, tidak didapatkan kesulitan yang berarti, karena mulai terbiasa dengan jobdes yang telah diberikan dan telah banyak mendapatkan pengarahan dari instruktur, dan dapat diselesaikan satu episode acara dalam dua hari kerja dari waktu empat hari yang diberikan oleh instruktur sedangkan untuk prepare setting nya memerlukan waktu 2 jam setiap harinya.
Setelah itu selama dua hari tersisa, dilakukan sedikit wawancara dengan art. Director lain. Dan disela-sela waktu luang tersebut didapatkan tawaran membantu ast. cameraman untuk Live segment pada program acara ” Solusi untuk Sehat” dan ” Sudut Pandang”. Program acara ” Solusi untuk Sehat ”  adalah sebuah program acara talk Show yang banyak menceritakan tentang pengobatan alternatif di seputar Surakarta. Program berdurasi 60 menit ini sangat berbeda dengan program acara yang penulis kerjakan sebelumnya. Program ini tidak memerlukan banyak efek penataan properti. Selain bahan setting yang minimalis, juga jarang diberikan rundown oleh asisten produser. Kurangnya pengarahan juga membuat kesulitan dalam proses produksi. Sekilas program ” Solusi Untuk Sehat ” lebih mudah dikerjakan daripada program ” Nyampur Sari ”, akan tetapi lebih banyak kesulitan yang didapatkan. Sempat diberikan pengarahan oleh art. Director. Penggunaan rasa dan kesabaran pikiran akan membuat sebuah program acara yang dikerjakan akan menjadi lebih bagus hasilnya.
Pada minggu ketiga, didapatkan kepercayaan penuh menjadi art. Director program acara yang telah diberikan instruktur. Pada hari pertama minggu itu, didapatkan kendala saat akan setting baru ”Kring Dangdut” karena asisten produser belum memberikan rundown program acara terbaru, sehingga setting awal diterapkan sementara, hingga asisten produser telah menyiapkan seluruh bahan program acara tersebut.
Pada hari dengan jadwal padat, misalnya Selasa dan Rabu, para art. Director melakukan pembagian tugas antara menata setting pada studio 1 dan studio 2, misalnya ”Saran Dokter Yarsis” di studio 1 dengan ”Dialog Bisnis” di studio 2 yang semuanya merupakan acara online, sedangkan selisih jam tayang hanya 2jam, maka pembagian tugas dilaksanakan dengan memperhitungkan estimasi waktu yang sempit. 
Pada hari kedua, rundown yang diberikan masuk setelah jam makan siang. Akhirnya sesuai dengan pengarahan instruktur yang pernah berikan, dicoba bagaimana membuat selama 30 menit. Dengan sedikit merubah setting, pekerjaan yang diberikan tersebut mampu diselesaikan dengan baik. Misalnya setting ”Dialog Bisnis” dengan ” Solusi Untuk Sehat ” yang sama – sama berada di studio 2 akan diselesaikan dengan cepat.
Minggu ketiga, tetap didapatkan jadwal seperti minggu-minggu sebelumnya.  Untuk minggu ini mencoba untuk mengikuti produksi hingga akhir pukul 22.00 WIB, yang pada awalnya pulang mengikuti jam kerja pulang pukul 17.30 WIB. Kadang anak magang mendapat kepercayaan menjadi crew produksi dan asisten cameraman, karena pada jam produksi malam hari sering kekurangan crew produksi. Hingga minggu keempat keseharian tersebut menjadi kebiasaan, di pagi hari mulai jam 09.00 – 17.00 WIB melakukan pasca produksi sekaligus produksi hingga jam 22.00 WIB.
Berbagai macam pengalaman, pengetahuan yang amat berharga didapatkan selama kerja profesi. Walaupun hanya sangat sedikit sekali yang didapatkan tetapi penulis yakin pengalaman itu sangat berarti dan berguna ketika penulis terjun ke dunia kerja.




LAKON DEWA RUCI CARA MENJADI JAWA

LAKON DEWA RUCI
CARA MENJADI JAWA
Sebuah Analisis Strukturalisme Levi – Strauss Dalam Kajian Wayang
Oleh; Dr. Aris Wahyudi, S.Sn. M.Hum.


Analisis atas kisah lakon Dewa Ruci yang berupa sebuah serat menuntut penelitian mengarahkan perhatiannya pada miteme satu dengan yang lainnya dan makna – makna yang muncul dari pembacaan atas miteme dan ceriteme tersebut di samping makna berbagai kata atau istilah penting yang terdapat di dalamnya.[1] Strategi analisisyang dapat diterapkan dalam analisis sebuah pertunjukan, tetapi belum tentu selurunya memadai, karena fenomena pertunjukan tidak sama persis dengan teks tetulis. Paradigma strukturalisme yang dikembangkan oleh Levi Strauss merupakan sebuah paradigma yang dimanfaatkan untuk memahami dan menjelaskan berbagai macam sosial budaya, dengan berbagai macam wujud empirisnya. Mempelajari mengenai penerapan analisis struktural terhadap berbagai dongeng (mitos), terhadap segala totemisme , terhadap sistem kekerabatan, terhadap topeng dan motif – motif seni. Paradigma strukturalisme sebagai kerangka pemikiran untuk memahami lakon Dewa Ruci secara teoritis dan subtansial.

A.       LATAR BELAKANG MASALAH
Lakon dewa Ruci yang mengisahkan Bima berguru kepada Drona untuk menguasai ngelmu kasampurnaan atau sangkan paraning dumadi merupakan kisah yang menarik dan unik. Dikatakan menarik karena relevansinya dalam kehidupan masyarakat jawa masih dijumpai sampai sekarang serta berbagai tanggapan terhadapnya, baik dari lingkungan dalang, peneliti, maupun di lingkungan orang Jawa. tangggapan atas  cerita dewa ruci dalam jagad wayang, baik di Jawa maupun di Bali berupa sastra lakon, yaitu naskah untuk kepentingan pertunjukan wayang kulit purwa yang dikenal Lakon Dewa Ruci (Hobart, 1987;32-34;Wiryamartana, 1990;2)
Sebagai sebuah fenomena kebahasaan, salah satu cara unttuk memahami Lakon Dewa Ruci adalah dengan mencari strukturnya. Sebagaimana dalam fenomena kebahasaan, sebuah pesan akan dapat ditangkpa apaabila si penerima memahami struktur (tata bahasanya) yang berlaku dalam bahasa tersebut. Ibarat Lakon Dewa Ruci adalah sebuah kalimat, Bima dan Drona adalah bagian dari kata-katanya, yang semuanya dibangun mengikuti “ tata bahasanya”. Dengan demikian untuk mengetahui makna pasangan toko bima dan Drona terlebih dahulu harus memahami struktur atau kaidah “ketata-bahasaannya” yang digunakan dalam lakon wayang. Untuk memahami psangan bima dan Drona, yaitu dengan sistem relasinya dengan tokoh yang lain, peristiwa, persoalannya dan settingnya sebagai unit-unit pokok.
Struktur pasangan Bima dan Drona yang telah di peroleh digunakan untuk memahami dalam teks Lakon Dewa Ruci. Apabila sebuah teks lakon telah diaktualisasikan dalam sebuah pertunjuakan, maaka dia akan memberikan makna lapis kedua, yang berbeda dengan makna teks lakonnya. Hal demikian dekarenkan dalam pertunjukan terlibat juga aspek ruang dan waktu. Oleh karena itulah dalam penelitian ini, aspek pertunjukan juga mendapat perhatian.

B.       RUMUSAN MASALAH
1.    Bagaimana struktur Lakon Dewa Ruci?
2.    Apa makna pasangan Bima dan Drona pada Lakon Dewa Ruci?
3.    Apa makna Lakon Dewa Ruci?
4.    Apa makna pertunjukan Lakon Dewa Ruci?

C.       TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN
1.      Melacak dan menjelaskan struktur lakon Dewa Ruci dalam kapasitasnya sebagai “tata bahasa”  lakon wayang
2.      Struktur yang telah diperoileh tersebut digunakan untuk melacakdan menjelaskan unsur-unsur pokok pmbangunan lakon khususnya pasangan Bima- Drona.
3.      Hasil temuan dari iten 2 dan 3 digunakan untuk manafsirkan makna teks Lakon Dewa Ruci
4.      Melacak dan menjelaskan makna pertunjukan Lakon Dewa Ruci.
5.      Menawarkan model penelitian untuk kajian wayang melalui analisis strukturalisme Levi-Strauss yang berfokus pada studi lakon wayang sebagai teks sastra lakon dan pertunjukan yang berorientasi pada as[pek objektivitas dan kolektivitas
Diperoleh pengungkapan baru serta mendapatkan pemahaman yang relatif utuh atas fenomena pertunjukan wayang kulit purwa Lakon Dewa Ruci.

D.       PENELITIAN TERDAHULU
Penelitiannya P.J.Zoetmulder dalam bukunya Panthseisme En Monisme in de Javaanshe Soeloek-Litteratuur (1935) yang diterjemahkan indonesia oleh Dick Hartoko “Manunggaling Kawula-Gusti; Panthaisme dan Monisme dalam Sastra Suluk Jawa” yang membahas serat Dewa Ruci.
Seno Sastroamidjojo dalam bukunya “Renungan Tentang Pertunjukan Wayang Kulit” (1964) Menafsirkan Lakon Dewa Ruci sebagai ajaran hidup untuk mencapai kebahagiaan hidup yang sempurna.
H.I.R. Hinzler dalam bukunya berjudul “Bima Swarga in Balinese Wayang (1981) membahas wayang tradisi Bali dengan menggunakan pendekatan sastra dan mempersempit ruang penelitian yang memfokuskan pada Lakon Bima Swarga, yang sangat berbeda dengan Lakon Dewa Ruci. Melalui kritik sastranya (filologi), Hinzler mengkaji makna lakon berfokus pada apa yang terceritakan, atau masih bertumpu pada pemaknaan di tingkat bahasa verbal. Dengan perbedaan tradisi dan lakon yang dikaji.   
S.P. Adhikara dengan buku berjudul “Dewa Ruci (1984) dan “Nawa Ruci (1984) pemaknaan menekankan pada aspek keteladanan berdasarkan peristiwa-peristiwa, teruama sikap Bima dalam menghadapi segala rintangan untuk mencapai cita-citanya. Dijelaskan bahwa yang dilakukan Bima merupakan tuntunan hidup masyarakat Jawa dalam menjalani kehidupan dengan berpijak pada pancabhakti atau pancasembah, yaitu: sembah kepada dewa, sembah kepada raja, sembah kepada orang tua, sembah kepada guru, dan sembah kepada diri pribadi. Memaknai tokoh Nawa Ruci serta wejangan Nawa Ruci kepada Bima melalui analisis terminologi hermeunetik.  
Woro Aryandhini Sumaryoto dengan buku berjudul “Citra Bima dalam Karya Sastra Jawa (1988) yang harus diperhatikan dalam membuat analog fenomena wayang dan fenomena sosial tidak dapat hanya berdasarkan satu peristiwa, melainkan harus melihat dari berbagai aspek yang melekat dalam wayang itu serta interterkstualitasnya. Selain itu diketahui bahwa tokoh seperti Arjuna, Baladewa, dan Kresna, yang mengalami peristiwa seperti Bima bahkan lebih eksplisit ditunjukkan Baladewa. Baladewa menjadi petani ketika diungsikan di kademangan Widorokandhang, dan menjadi Brahmana dalam lakon Wasi Jaladara.    
Magniz Susena dalam bukunya berjudul “Etika Jawa(1988) Semua unsur pertunjukan wayang beserta lakon dan semua tokoh-tokohnya dipandang sebagai lamabang hidup manusia Jawa. Keberadaanya dipandang sebagai tuntunan atau acuan (etika) orang Jawa dalam menjalani kehidupannya. Bahwa lakon Dewa Ruci merupakan ajaran Manunggaling Kawula-Gusti dalam mistik Islam Jawa.
Soetarno dalam laporan penelitiannya berjudul “Serat Bima Suci dengan berbagai Aspeknya” (1989), meneliti Serat Bimasuci karya Yasadipura I yang ditulis kembali oleh R. Tanaya dengan huruf latin terbitan balai pustaka (1979). Melalui pendekatan Filsafat, Serat Bimasuci disimpulkan memiliki beberapa aspek yaitu aspek metafisika tentang sangkan paraning dumadi, aspek antropologi yang meliputi segi lahir dan batin manusia, aspek etika/estetika yaitu pencapaian kesempurnaan melalui sarana etika dan estetika, aspek epistimologi yaitu pencapaian pengetahuan melalui cipta-rasa-karsa. Kesemua aspek tersebut dipandang sebagai mistisisme Jawa dalam rangka Manunggaling Kawula-Gusti.    
Effendy Zarkasi buku yang berjudul “Unsur-unsur Islam Dalam Pewayangan (1996)” menjelaskan bahwa Cerita Dewa Ruci disusun pada abad XVI. Yang perlu dipertimbangkan pula bahwa meskipun pada masa itu adalah masa awal perkembangan Islam di Jawa, bukan berarti dapat serta-merta dikatakan sebagai gubahan orang Islam karena agama yang lama, baik itu Hindu, Budha atau beberapa kepercayaan yang masih dianut oleh sebagaian masyarakat Jawa pada waktu itu.  
Soebardi bukunya berjudul “Serat Cabolek (2004). Kandungan Serat Cabolek yang dihubungkan dengan ajaran mistik serta cerita Dewa Ruci. Cerita Dewa Ruci jelas berasal dari zaman Pra-Islam dan bagian utamanya mungkin berasal dari Mahabharata. Cerita tersebut telah mengalami perubahan-perubahan tertentu dimana peran Bhima telah dibuat lebih penting dibandingkan peran Arjuna (Soebardi, 2004:63).
Heddy Shri Ahimsa- Putra dengan karya buku yang berjudul “Strukturalisme Levi-Strauss Mitos dan Karya Sastra (2006)” Pertama, mengkaji Lakon Dewa Ruci dalam kapasitasnya sebagai sastra lakon. Untuk itu makna Lakon Dewa Ruci tidak hanya dikaji melalui analisis teks lakonnya saja tetapi juga analisis teks pertunjukannya. Kedua, mengkaji Lakon Dewa Ruci dengan melibatkan keseluruhan unsur pembangun lakon sebagai satu kesatuan. ( Levi Strauss: 206-207; Luxemburg, 1984 : 86-90).   

E.        RUANG LINGKUP KAJIAN
Dalam studi budaya sebuah istilahseringkali memiliki beberapa pengertian yang berbeda – beda, yang disesuaikan dengan sudut pandang pendekatan dan disiplin yang digunakan peneliti (Alasuutari,1995:35). Oleh karena itu dalam kebutuhan ini perlu dilakukan perumusan konsep atas istilah yang digunakan sebagai ranah analisis agar tidak terjadi kesalahpahaman antara pembaca dengan peneliti, serta memberikan arahan dalam menyusun teori (Koentjaraningrat, 1977: 32 – 36)
Wayang sudah hidup pada zaman prasejarah sebagai sarana ritual animisme untuk upara pemujaan kepada arwah para leluhur (Brandon,1970:3; Yudhianta,1988:103). Pertunjukan wayang telah lama dikenal dan digemarimasyarakat Jawa, salah satu petunjuk adalah inskripsi peninggalan kuno yang diperkirakan tahun 907 masehi, pada masa pemerintahan Raja Dyah Balitung. Dalam peninggalan tersebut disebutkan mengenai sebuah pertunjukan wayang (Amir,1991:34). Soedarsono menjelaskan bahwa prasasti tersebut menjelaskan tentang pertunjukan wayang wong (Soedarsono,1977:3-4).
Untuk memahami wayang, harus pula memahami pandangan orang Jawa mengenai kelir. Kelir dalam pertunjukan wayang dipandang sebagai simbol sebagai tempat segala makhluk (pertunjukan wayang) beraktifitas (sastroamidjojo,1964:70). Oleh karena wayang kulit berdimensi dua,maka kelirnya pun juga berdimensi dua, yaitu berupa kain putih yang dibentangkan. Sebagaimana dalam pandangan masyarakat Jawa, kelir merupakan identifikasi dari jagad atau ruang hidup yang ada masanya digelar dan digulung. Apabila jagadnya digulung maka dimaknai sebagai berakhirnya kehidupan. Dengan demikian wayang dapat diorientasikan dengan makna jagad dengan segala isinya. Rangka kesesuaian dimensi sebagai simbol alam beserta isinya (jagad saisine). Bayang – bayang yang muncul dalam pertunjukan wayang kulit adalah hanya sebuah efek dari jagad dua dimensi yang terkena sinar blencong (matahari).      
Wayang adalah ssudah jagad imajiner sebagai perwujudan jagad pikir mitis orang Jawa untuk menerjemahkan pengetahuannya mengenai mikrokosmos dan makrokosmos. Pengertian wayang mencakup tokoh, permasalahan, persoalan, tempat dan bentuk pertunjukan. Wayang adalah kesatuan dari boneka, cerita, dan pertunjukan yang saling menjalin dalam rangkaian cerita yang sangat panjang, sebagai jagad simbol dengan kompleksitas fenomena budaya. Ketiga makna wayang tersebut dihargai sebagai sesuatu yang telah menyatu dan tidak dapat terpisahkan. Ketika wayang disebut sebagai “cerita” secara otomatis akan terbersit mengenai boneka dan pertunjukannya sekaligus, demikian sebaliknya ketika wayang disebut sebagai sebuah pertunjukan akan tersertakan dua aspek yanglainnya, atau disebut dengan jagad wayang.
Istilah struktur dalam kajian budaya memiliki pengertian yang berbeda – beda. Bidang ilmu sosiologi, antropologi, sastra, seni, maupun beberapa penelitian menjabarkan pengertian struktur menggunakan analogi berdasarkan paradigma dan latar belakang pengetahuannya (model). Struktur dalam bidang sastra dimaknai suatu kaitan-kaitan tetap anatara kelompok-kelompok gejala dengan menekankan kategorisasi (oposisi) penokohan: utama-membantu, antagonis-protagonis, dan sebagainya (Luxemburg: 36-40; Teeuw,2003: 102-104 dan 113).
Kata Struktur biasa menunjuk pada hubungan – hubungan yang terjadi di antara manusia yang berbeda kedudukannya. Struktur cenderung menghasilkan jarak, ketidaksamaan, seringkali malah mengarah pada eksploitasi antara manusia dengan manusia, laki-laki terhadap perempuan, dan yang tua kepada yang muda. (Y.W Wartaya Winangun, 1990: 56).

F.        LANDASAN TEORI
Levi-Strauss berpandangan bahwa struktur adalah model yang dibuat oleh antropolog untuk memahami dan menjelaskan fenomena budaya yang ditelitinya dan yang tidak ada kaitannya dengan fenomena empiris kebudayaan itu sendiri. Model ini merupakan relasi-relasi yang saling berhubungan dan saling mempengaruhi, yang merupakan keteraturan mekanisme yang tidak disadari oleh penggunanya (Baal,1988: 118-119). Dalam pandangan ini setiap fenomena budaya merupakan bahasa-bahasa, yaitu suatu perangkat tanda dan simbol yang menyampaikan pesan-pesan tertentu. Struktur diperoleh dengan cara mengabstraksikan ketertataan (order) serta keterulangan (regularities) pada berbagai fenomena budaya dan merumuskan aturan-aturan abstrak (model) dibalik fenomena budaya yang ditelitinya. Dengan demikian yang dimaksud struktur disini adalah “tata bahasa”, yaitu pola-pola yang menjelaskan tentang kaidah-kaidah yang berlaku secara kolektif, yang mengatur sistem relasi dari relasi unsur-unsur dalam Lakon Dewa Ruci dan pertunjukannya (Ahimsa-Putra; 60-61). Struktur ini dapat digunakan untuk memahami berbagai fenomena budaya Jawa. Artinya struktur disini merupakan sesuatu yang bermakna.
Makna Lakon dewa Ruci sebagai sebuah teks yang otonom dan berdiri sendiri memiliki otoritas makna yang terlepas dari fenomena budaya yang melingkupinya, tidak berhubungan dengan konteksnya. Makna teks dipandang stabil, tidak mengalami perubahan, serta tidak terpengaruh oleh dinamikanya (Segers, 1978:87; Teeuw, 2003:53-54; Palmer, 2005: 185-186). Makna di sini adalah gagasan pokok yang terkandung dalam Lakon Dewa Ruci yang dibangun oleh keseluruhan unsur sebagai sistem simbol berdasarkan struktur yang diperoleh dari analisis struktural. Artinya bahwa makna adalah merupakan hasil pembacaan dan penafsiran yang berfokus pada bagaimana cara unsur-unsur Lakon Dewa Ruci itu direlasikan baik dalam relasi sintagmatik maupun paradigmatik (Levi-Strauss, 1967:206).
Makna disini menekankan pada relasinya, meskipun bukan berarti mengabaikan simbol. Simbol  merupakan unsur penting yang memberi acuan referensial dalam membangun makna lakon. Lakon Dewa Ruci dalam analisis ini dipandang sebagai sebuah kalimat yang terdiri dari serangkaian kata-kata. Melalui model ini sangat mungkin bahwa makna yang diperoleh memiliki kesamaan atau kemiripan dengan makna yang dimaksudkan oleh penanggapnya, tetapi juga sangat mungkin justru sangat berbeda atau tidak ada kaitannya sama sekali dengan maksud si penanggap. Penelitian yang berpusat pada studi teks ini berupaya melacak pasangan Bima-Drona dalam Lakon Dewa Ruci pertunjukan Wayang Kulit Purwa dengan menggunakan model linguistik yang ditawarkan Levi-Strauss.
Wayang sebagai budaya Jawa banyak diwarnai konsep asma kinarya japa. Yang dimaksudkan dengan asma kinarya japa adalah sistem tanda yang menggunakan istilah terminologi. Oleh karena itu dalam penelitian ini dilibatkan pula analisis transformasi hermeneutik. Wayang di satu sisi lain juga sebagai mitologi Jawa, yang dibangun untuk dijadikan acuan (model for) orang Jawa dalam menjalani kehdupannya, dan sekaligus sebagai representasi (model of) dari sistem nalar orang Jawa. (Peursen, 1992: 38-39)oleh karen itu sistem nalar orang Jawa sangat Mitis, maka dilibatkan pula analisis mitologi wayang yang merupakan dasar pemikiran mitologis dalam Jagad Wayang (Zoetmulder, 1994:26; Laksono, 1985: 22; Becker, 1979: 226-230).

Metode Penelitian

Penelitian ini berdasarkan paradigma strukturalisme Levi-Strauss, namun pengertian mitos dalam wayang agak berbeda dengan pandangan Levi-Strauss sehingga strategi analisisnya pun memiliki sedikit perbedaan, perbedaan itu terletak pada tiga hal:
1.      Keterlibatan analisis mitologi yang oleh Levi-Strauss abaikan, dalam penelitian ini dihargai sebagai persoalan pentig dalam rangka menentukan relasi paradigmatik atas miteme-miteme yang diperoleh.
2.      Lakon Dewa Ruci sebagai salah satu bagian dari rangkaian cerita panjang Mahabharata Jawa, keberadaanya tidak dapat lepas dari teks-teks lakon yang lain (intertekstualitas). Hal demikian berbeda dengan sifat mitos-mitos yang dianalisis Levi-Strauss, yakni mitos pendek dan terpisah-pisah.
3.      Sebagai teks pertunjukan, sifat lakon wayang berbeda dengan mitos-mitos yang dianalisis oleh Levi-Strauss maupun Ahimsa-Putra yang bersifat sastra fiksi. Lakon Dewa Ruci sebagai lakon, aspek pementasan merupakan persoalan penting yang memiliki makna tersendiri, sebagai makna lapis kedua. Oleh karena itu aspek pertunjukan mendapat perhatian khusus dalam penelitian ini.
Tahapan analisis struktural meruakan tampilan fakta-fakta yang ditampilkan dalam analisis dramatik, selanjutnya dilakukan kategorisasi untuk mendapatkan miteme. Melalui percermatan atas relasi antar miteme kemudian dibangun kerangka relasionalnya secara sintagmatik dan paradigmatik. Dengan cara demikian diperoleh deep structure Lakon Dewa Ruci. Analisis lakon wayang sebagai wujud transformasi dalam sebuah konsep dilakukan dengan cara:
a.       Memperhatikan kerangka relasional antara unsur-unsur cerita yang meliputi tokoh, peristiwa, persoalan, dan setting, baik secara sintagmatik maupun paradigmatik.
b.      Pembacaan dan penafsirannya secara paradigmatik dengan melibatkan aspek mite yang ditunjukkan melalui nama, kepemilikan atas sesuatu, karakter, inkarnasi dan keturunan.
c.       Penelaahan secara hermeneutika dan terminologi dipandang penting mengingat bahwa sistem simbol dalam tradisi Jawa banyak berpijak pada konsep asma kinarya japa, yaitu nama selalu bermakna.
d.      Hasil pembacaan dan penafsiran secara paradigmatik ini kemudian dicari kesesuaiannya dalam relasi sintagmatik.

Teks Dramatik Lakon Dewa Ruci

1.      Unsur Dramatik Lakon Dewa Ruci
Pementasan disini dapat dipahami sebagai pertunjukan manapun pembacaan aktif atas teks lakon Dewa Ruci ( Soemanto, 2002:42). Dalam  penlitian ini pertunjukan dihargai sebagai sisi laindari teks lakon, yang memberikan kepda drama sebuah penafsiran kedua (Luxemburg, 1984:158)
2.      Kedudukan teks lakon dalam penelitian
Analisis teks lakon dalam penelitian ini didudukan sebagai struktur luar (Surface Structure), yang akan dianalisis dalam bab selanjutnya untuk mendapatkan struktur dalam atau deep structure (Ahimsa-Putra, 2006:61 dan 204).
Dalam kepentingannya dengan penelitian ini sebagaimana diketahui bahwa sanggit-sanggit Lakon dewa Ruci yang dijumpai dalam tradisi wayang, masing-masing selalu diwarnai subjektivitas yang nyanggit. Oleh karena itu pemiliha teks dramatik yang bersumber dari kaset rekaman wayang oleh dalang Ki Narto Sabdo ini di dudukan sebagai sebuah data ethnografi yang mewakili teks-teks yang lain.

Bima – Drona Sebagai Transformasi Prana dalam Prananya

 oleh masyarakat Jawa diartikan sebagai sistem simbol dalam rangka penyampaian sejumlah pesan atau makna. Makna tersebut diartikulasikan melalui tokoh, peristiwa,persoalan dan setting atau tempat peristiwa tersebut terjadi (Soetarno, 1993:2). Meskipun pada bagian ini membahas makna pasangan Bima-Drona, tetapi bukan berarti memandangnya sebagai tokoh utama karena dalam analisis strukturalisme, pandangan demikian tidak diberlakukan.
Didudukannya sebagai fokus analisis karena secara nyata (terceritakan) pasangan Bima-Drona memiliki relasi dengan keseluruhan unsur pembangun lakon. Dari sini dapat diasumsikan bahwa makna masing-masing unsur pembangun lakon ditentukan oleh relasinya dengan Bima, dan sebaliknya, serta ditentukan pula oleh relasinya pasanya Bima-Drona dengan unsur lainnya. Dengan demikian jelas bahwa untuk menganalisis makna pasangan Bima-Drona secara otomatis membahas makna keseluruhan unsur pembangun lakonnya.
Peristiwa dan permasalahan Bima-Drona dalam penelitian inidifokuskan pada apa yang terjadi dalam lakon Dewa Ruci. Dipahami bahwa Bima-Drona merupakan bagian dari tokoh-tokoh yang ada dalam Lakon Dewa Ruci. Artinya bahwa teks dari lakon Dewa Ruci. Lakon merupakan wahana yang mewadahi dari segala aktifitas pasangan tokoh Bima-Drona dalam berelasi dengan unsur yang lain. Bersandingan unsur-unsur disini dirangkai melalui jalan cerita dan peristiwa dalam teks Lakon Dewa Ruci. Analisi tersebut disejajarkan dengan analisis kalimat dalam fenomena kebahasaan. Relasi antara unsur dalam sebuah struktur akan membangun makna test Lakon Dewa Ruci. Yang perlu diidentifikasikan pertama kali adalah dari sifat lakon yang dikaji. Berdasarkan penggunaan  nama Dewa Ruci sebagai judul lakon mengisyaratkan bahwa persoalan cerita ini memiliki keterkaitan yang saangat erat dengan aspek kedewaan, keillahian, maupun mengenai fenomena mitis. Oleh karen itu dalam hal ini, tidak dapat mengabaikan analisis mitologi. Namun demikian bukan berarti analisis mitologi sebagai tujuan penelitian, melainkan sebagai tahap awal dalam rangka melakukan kategorisasi.
Setiap unsur lakon wayang tidak lepas dari mitologi wayang. Oleh karena itu, dalam pendapat Hiltebeitel bahwa semua peristiwa yang dialami tokoh-tokoh epik (tokoh titah untuk wayang) selalu melibatkan campur tangan dari tokoh-tokoh mite (tokoh dewa untuk wayang). Campur tangan tersebut ditunjukkan melalui sistem simbol yang berupa inkarnasi, kepemilikan atas sesuatu, karakter, ciri-ciri fisik, penggunaan nama, dan keturunan (Hiltebeitel, 1990: 35-37). Berdasarkan pandangan di atas setiap tokoh wayang (ksatria) selalu memiliki aspek mite (aspek dewa). Minkowski mengatakan bahwa kelahiran Mahabharata dilatar belakangi konsep pemikiran Hindu tentang ajaran ritual Wedik Brah manisme yang meliputi prinsip-prinsip kehirarkian dan keseimbangan alam yang diatur dalam sebuah kelembagaan ritual (Minkowski, 1989:401). Penyebarannya di Jawa telah mengalami transformasi kembali  yang disertai penafsiran-penafsiran baru, dan kemudian dikembangkan lagi menjadi bentuk pertunjukan wayang.
Perjalanan sejarahnya yang sangat panjang dan proses pewarisannya telah mengalami perubahan sebagai upaya penegasan dan arah perhatian terhadap konsep maupun makna wayang untuk disesuaikan dengan selera, minat, dan penilaian selaras dengan latar belakang sosial, budaya dan religius masyarakat tradisi wayang (Wiryamartana, 1990:463). Wayang meskipundikatakan sebagai kebudayaan asli Jawa tetapi sangat lekat dengan tradisi Hindu, karena bagaimanapun juga wayang merupakan sinkretisme Jawa-Hindu. Oleh karena itu dapat dipahami apabila beberapa ahli berpendapat bahwa Hindu merupakan akar budaya wayang (Wiryamartana, 1990; Jayaatmaja, 1994;Widyaseputra 2006:171-200; Prastiyono dan Manu Jayaatmaja, 2007:1-26; periksa Ananda Murti, 1991; Ahimsa-Putra, 2012: 512-513). Edi Sedyawati menyebutkan bahwa berbagai kebudayaan di Indonesia, khususnya wayang merupakan hasil akulturasi dengan kebudayaan India (periksa Soedarsono, 1985:4-10, Ahimsa-Putra, 2012:513). Meskipun proses transformasi tersebut telah berjalan dalam kurun waktu  sangat panjang, namun masih memungkinkan untuk dilacak jejak-jejak masa lampaunya (Jayaatmaja, 1994:4). Berkenaan dengan pandangan di atas, yang sangat menarik adalah pernyataan Soebardi dalam Serat Cabolek (2004) sebagai berikut:
Cerita DewaRuci jelas berasal dari zaman Pra-Islam dan sebagaian utamanya mungkin berasal dari Mahabharata. Cerita tersebut telah mengalami perubahan-perubahan tertentu di mana peran Bhima telah dibuat lebih penting dibandingkan dengan peran Arjuna
(Soebardi, 2004:63).
     
Pola Bangunan Lakon Dewa Ruci
Satu lakon dibagi menjadi tiga bagian atau fase yang disebut degan istilah pathet, yaitu; Pathet Nem, Pathet Sanga, Pathet Manyura. (Holt,2000; 185-188; Brandon, 2003; 126-133)
Pola pembagian demikian dapat dijumpai dala, tradisi Surakarta dan Ngayogyakarta. Levelisasi pembagian bangunan lakon tradisi wayang Surakarta berdasarkan sistem penulisan dalam Pakem pedalanga jangkep, baik yang disusun R.Ng. Nojoworongko terbitan Tjabang bagian bahasa Jogjakarta Djawatan Kebudajaan, Departemen P.P. danK., (1960), maupun Ki Ng. Wigyosoetarno terbitan STSI Press Surakarta dan PDMN (1996) menyebutkan bahwa dalam satu lakon terdiri dari satu jejer, yaitu pada adegan I, sedangkan selanjutnya dikategorikan sebagai adegan. Pembagian demikian, dalam kebutuhan penelitian ini agak membingungkan karena ada sebuah adegan yang teryata merupakansub adegan dari adegan sebelumnya, tetapi kategorisasinya masih sama.

Pertunjukan Lakon Dewa Ruci Sebagai Ritual Pemujaan Siwa
Menjelaskan makna pertunjukan Lakon Dewa Ruci sebagai sebuah teks, melalui sistem relasi astar unsurnya berdasarkan stuktur yang mencakup aspek pertunjukannya. Dalam analisis ini pertunjukan Lakon Dewa Ruci di dudukan sebagai subjek otonom, yang memiliki otoritas teks, yang makna terpisah dari tujuan dan maksud penanggap atau penyelenggaranya, atau dengan kata lain bahwa makna yang dimaksud di sini adalah makna otoritas teks yang tidak ada kaitannya dengan fenomena empiris atas peristiwa budaya itu sendiri (Ahimsa-Putra, 2006:60). Analisis pertunjukan ini tidak dapat melepaskan diri dari pengaruh atau innterelasi denga teks lakonnya. Hal demikian peting karena sebagaimana pandangan Tarigan bahwa antara teks play (materi pertunjukan) dengan pertunjukannya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan (Tarigan 1984:73). Sebagaimana makna lapisan kedua maka keberadaanya sanagat ditentukan oleh makna text play. Dipahami pula bahwa pertunjukan sebagai sebuah teks, ia dibangun oleh lapisan- lapisan makna yang lainnya, baik dari lapisan yang paling kecil (peristiwa, tokoh,masalah, dan setting) hingga lapis yang paling besar dalam keseluruhan pertunjukan wayang. Antara lapis tersebut saling berelasi dalam rangka membangun makna tunggal, yaitu teks pertunjukan Lakon Dewa Ruci. Fenomena demikian yanag membedakan antar Lakon Dewa Ruci sebagai sastra lakon dengan sastra fiksi.    
                                                                             
      





[1] Ahimsa-Putra, 2011. 

Festival Keraton Nusantara 2019 Luwu Palopo

   Festival Keraton Nusantara (FKN) XIII tahun 2019 Tana Luwu . Festival Keraton Nusantara atau FKN adalah sebuah pameran...